KASUS BRUCELLOSIS ABORTUS PADA SAPI DAN KAMBING

https://www.pexels.com/id-id/pencarian/KASUS%20BRUCELLOSIS%20ABORTUS%20PADA%20SAPI%20DAN%20KAMBING/


  1. Etiologi, Transmisi, Pathogenesis dan Dampak Ekonomi 

  • Etiologi

Brucellosis merupakan penyakit pada hewan yang disebabkan oleh bakteri Brucella sp. dan menimbulkan demam. Penyakit ini dapat menular dari hewan ke manusia (zoonosis), namun tidak menular dari manusia ke manusia. Brucellosis merupakan salah satu penyakit zoonosis yang tersebar di seluruh bagian dunia dan masih bersifat endemik bagi sebagian besar negara berkembang, termasuk di Indonesia (Doganay et al. 2003). Brucellosis pada hewan disebut Bang’s Disease atau Penyakit Keluron Menular yang disebabkan oleh bakteri genus Brucella. Bakteri Brucella bersifat Gram negatif, berbentuk batang halus, mempunyai ukuran panjang 0,5-2,0 mikron dan lebar 0,4-0,8 mikron, non-motil, tidak berspora, dan bersifat aerob. Brucella merupakan bakteri intraseluler, dan dapat diwarnai dengan metode Stamp atau Koster. Saat ini genus Brucella diketahui mempunyai 6 species yaitu B. abortus, B. melitensis, B. suis, B. neotomae, B. ovis, dan B. canis. Diketahui terdapat 3 spesies brucellosis yang menimbulkan kerugian pada ternak yaitu B. abortus yang menyerang sapi, B. melitensis yang menyerang kambing, dan B. suis yang menyerang babi dan sapi (Pudjiatmoko, 2014).

Koloni bakteri ini berbentuk seperti setetes madu bulat, halus, permukaan cembung dan licin, mengkilap serta tembus cahaya dengan diameter 1-2 mm. Secara biokimia Brucella dapat mereduksi nitrat, menghidrolisis urea, dan tidak membentuk sitrat tetapi membentuk H2S. Pertumbuhan kuman memerlukan temperatur 20-40 °C dengan penambahan karbondioksida (CO2) 5-10 % (Sulaiman dan Pormadjaya 2004). Apabila Brucella masuk ke dalam sel epitel, maka akan dimakan oleh neutrofil dan sel makrofag masuk ke limfoglandula. Bakteriemia muncul 1-3 minggu setelah infeksi apabila sistem tubuh tidak mampu mengatasi. Biasanya Brucella terlokalisir pada sistem reticuloendothelial seperti hati, limpa, dan sumsum tulang belakang dengan membentuk granuloma. 

  • Transmisi

Transmisi penularan Brucella sp. dapat melalui fetus, plasenta, lendir vagina (ditemukan pada minggu ke-4 sampai ke-6 setelah abortus), semen, urin, air liur, cairan dari rongga hidung dan mata, susu, serta feses. Penularan Brucellosis pada sapi, kambing, domba, dan babi terjadi per oral dan melalui perkawinan. Selain itu, penularan juga dapat melalui fetus, selaput fetal setelah aborsi dan stillbirth (lahir dalam keadaan mati), ataupun melalui venereal transmission (hubungan kelamin).  Brucella masuk kedalam tubuh melalui mulut, saluran reproduksi, oronasal, mukosa konjunctiva, luka terbuka dan melalui transfusi darah (Arut et al. 2010). Faktor predisposisi penularan penyakit biasanya karena sanitasi yang kurang baik,  dan hewan berdesak-desakan sehingga memudahkan terjadinya penularan dari  hewan yang telah terinfeksi. Brucellosis merupakan penyakit berisiko sangat  tinggi, oleh karena itu alat-alat yang telah tercemar bakteri brucella sebaiknya didesinfeksi agar tidak menjadi sumber penularan ke hewan atau manusia (Pudjiatmoko 2014).

  • Patogenesis

Brucella spp. adalah bakteri yang patogen terhadap manusia dan hewan, bakteri ini juga diketahui sangat baik beradaptasi terhadap tubuh hostnya. Brucella adalah bakteri patogen intraseluler fakultatif, yang hidup dan memperbanyak diri dalam sel-sel sistem retikuloendotelial. Bakteri dapat masuk ke dalam tubuh dengan cara menelan, inhalasi, penetrasi kulit utuh, lecet, maupun melalui mukosa pada konjungtiva (Doganay et al. 003). Bakteri juga dapat masuk dalam tubuh  melalui penetrasi mukosa saluran pencernaan, mulut, saluran reproduksi. Setelah  berhasil menembus mukosa, bakteri akan terbawa ke dalam sistem peredaran limfatik dan bersarang di dalam kelenjar pertahanan terdekat dengan lokasi masuknya, mengaktifkan komplemen sebagai sistem alternatif yang menghambat  kematian sel. Setelah bakteri bereplikasi di dalam retikulo endoplasma, Brucella sp. dilepaskan dengan bantuan hemolisin dan menginduksi nekrosa sel. Bakteri ini mempunyai kemampuan yang unik untuk bertahan dari sel fagosit dan non fagosit, kemudian bertahan di lingkungan intraseluler dengan menghindari sistem kekebalan dengan cara yang berbeda. Bakteri akan terlepas dari limfonodus dan menyebabkan septikemia, jika Brucella sp. tidak hancur atau tetap berada di dalam limfonodus. Bakteri akan pindah ke organ lympho-reticular yang lain, seperti limpa, sumsum tulang, hati dan testes, untuk selanjutnya menghasilkan granuloma atau abses. Hal inilah yang menyebabkan brucellosis bersifat sistemik dan dapat melibatkan hampir seluruh organ. Bakteri yang berhasil lolos dari sistem pertahanan tubuh ini selanjutnya akan tersebar ke jaringan tubuh lainnya, seperti kelenjar ambing, melalui sistem peredaran darah (Dewi 2009).

  • Dampak Ekonomi

Menurut Samkhan (2014) dampak kerugian ekonomi penyakit Brucellosis pada suatu peternakan sangat besar, walaupun tidak disadari oleh para peternak. Dampak langsung kerugian ekonomi akibat Brucellosis berupa keluron (abortus) yang umumnya 1-2 kali seumur hidup, tetapi ternak sebagai reservoir (pembawa penyakit), infertilitas, retensi plasenta, kelahiran mati, penurunan produksi susu, umumnya ternak yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala (subklinis). Kasus Brucellosis juga berdampak secara tidak langsung terhadap pengeluaran ekstra bagi peternak dan mengganggu perekonomian daerah yang merupakan sumber utama dari perdagangan ternak keluar provinsi atau pulau (Susanti 2013). Menurut Hidayat (2010) Brucellosis menyebabkan kerugian ekonomi sebesar Rp. 385 miliar per tahun karena adanya keguguran, kematian pedet, sterilitas, infertilitas dan penurunan produksi susu.


  1. Metode Diagnosa  Brucellosis Abortus pada Sapi dan Kambing 

Pemeriksaan diagnosa dapat dilakukan dengan pengambilan darah. Uji RBT (Rose bengal test) dan uji CFT dapat dilakukan untuk mendiagnosis Brucellosis. Prinsip uji RBT yaitu reaksi antara antigen Brucella abortus yang dilemahkan dan diwarnai dengan antibodi dari serum. Permukaan antigen terjadi pengikatan dengan antibodi yang menimbulkan reaksi aglutinasi, jika non reaktif maka tidak ada antibodi di dalam serum. Sedangkan prinsip uji CFT (complement fixation test)  dilakukan sebagai uji penyaringan (screening) brucellosis pada ternak secara individual  dimana pada reaksinya menyebabkan adanya sel darah merah yang lisis dikarenakan adanya antibodi dan antigen kompleks yang homolog menarik komplemen sehingga berikatan dengan antibodi dibagian Fc bagian dari antibodi (Palgunadi et al. 2019).


  1. Penerapan Konsep One Health dalam Pengendalian Penyakit Brucellosis Abortus pada Sapi dan Kambing 

One Health” adalah sebuah pendekatan berdasarkan keterpaduan kesehatan manusia dan hewan, tanaman, dan ekosistem serta mendorong upaya multidisiplin lokal, nasional, dan global bersama untuk mencapai tingkat kesehatan yang optimal dan kolaborasi antara berbagai disiplin ilmu untuk mengatasi masalah kesehatan yang kompleks. Untuk menggunakan pendekatan One Health dalam mengatasi brucellosis dapat dilakukan dengan identifikasi sumber infeksi secara akurat dan pengembangan strategi pengendalian yang ditargetkan pada hewan pada kasus ini domba dan sapi (Ghanbari et al. 2020).

Peran peternak melakukan vaksinasi dalam pencegahan dan pengendalian brucellosis sangat penting.  Sebelum melaksanakan program pengendalian dan pemberantasan, perlu dilakukan identifikasi spesies Brucella yang menginfeksi hewan dan intervensi. Hewan yang terinfeksi dan tidak terinfeksi perlu divaksinasi pada saat vaksinasi massal. Sapi dan domba yang lahir dari hewan yang terinfeksi juga dapat terinfeksi. Ternak non-konvensional spesies (seperti unta) hingga brucellosis pada manusia juga harus diselidiki. Status vaksinasi harus selalu dipertimbangkan, karena vaksin mengganggu serologi. Perlu dicatat bahwa vaksinasi saja tidak cukup untuk berhasil dalam pencegahan dan pengendalian brucellosis. Pemerintah harus terlibat dan harus mengangkat kesadaran orang-orang di negara mereka tentang risiko penyakit ini (Avila-Calderón et al. 2013).

Empat langkah peta jalan untuk pengendalian Brucellosis yang progresif pada hewan dan manusia (FAO 2012) yaitu langkah 0 (situasi Tidak Diketahui), langkah 1 (situasi diketahui (prevalensi > 2%) dengan program pengendalian), langkah 2 (situasi diketahui (prevalensi < 2%) dengan program pengendalian), langkah 3 (bebas sementara), dan langkah 4 (deklarasi status bebas brucellosis).

Di Indonesia, dilakukan pendekatan strategis yang dikembangkan dari pendekatan FAO yaitu “Empat langkah peta jalan untuk pengendalian Brucellosis yang progresif pada hewan dan manusia” (FAO 2012), yang menghasilkan 5 langkah sesuai dengan kesepakatan.

  1. Prevalensi tidak diketahui; peningkatan kesadaran masyarakat, lakukan sero-survei, investigasi kasus abortus dengan konfirmasi laboratorium, dan buat program pengendalian/pemberantasan.

  2. Prevalensi tinggi (prevalensi kelompok ternak/desa >2%); peningkatan kesadaran masyarakat, kendalikan lalu lintas ternak ke area/zona/kompartemen, investigasi kasus abortus dengan pengujian laboratorium dan penelusuran, persiapkan laporan pembebasan brucellosis, 

  3. Prevalensi rendah (prevalensi kelompok ternak/desa <2%); peningkatan kesadaran masyarakat, tidak lakukan vaksinasi, kendalikan lalu lintas ternak ke area/zona/kompartemen, uji semua sapi betina >12 bulan (RBT), konfirmasi RBT+ dengan CFT, bayarkan kompensasi, lakukan sero-survei setiap tahun, investigasi kasus abortus dengan konfirmasi laboratorium, penelusuran ternak reactor, kaji ulang program setiap tahun 

  4. Bebas Sementara (prevalensi kelompok ternak/desa) <0,2%); peningkatan kesadaran masyarakat, tidak lakukan vaksinasi, kendalikan lalu lintas ternak ke area/zona/kompartemen, lakukan sero-survei setiap tahun, pertahankan investigasi kasus abortus dan pengujian/penelusuran/ sembelih reaktor 

  5. Bebas (prevalensi kelompok ternak/desa selama 3 tahun <0,2%); peningkatan kesadaran masyarakat, vaksinasi semua sapi betina pada tahun pertama, vaksinasi semua anak sapi betina setiap tahun (dua kali vaksinasi per tahun, semua anak sapi umur 3 - 9 bulan), catat/laporkan penggunaan vaksin, kendalikan lalu lintas ternak ke area/zona/kompartemen, lakukan sero-survei secara periodic, investigasi kasus abortus dengan konfirmasi laboratorium, penelusuran ternak reactor, kaji ulang program setiap tahun.


  1. Pentingnya Diagnosa yang Cepat dan Tepat  dalam Pengendalian Brucellosis Abortus

Metode diagnosis yang cepat dan tepat sangat diperlukan untuk mengidentifikasi dan mengontrol brucellosis pada sapi. Penyakit brucellosis di Indonesia dikategorikan sebagai salah satu penyakit hewan menular strategis yang mendapat prioritas pengendalian yang tidak hanya membahayakan bagi ternak, namun infeksi Brucellosis juga berbahaya bagi manusia. Brucellosis sebagai penyakit zoonosis juga menjadi ancaman penularan penyakit pada manusia baik melalui kontak langsung maupun melalui produk ternak yang terinfeksi (Noor 2018). Brucellosis dapat ditransmisikan melalui plasenta, fetus, vagina discharge, kopulasi pada ternak dan bahan pangan asal hewan yang apabila terkonsumsi oleh manusia dapat memicu terjadinya gangguan kesehatan pada manusia. Infeksi tersebut akan berdampak pada kerugian ekonomi yang sangat signifikan karena dapat mengakibatkan keguguran, sterilitas dan infertilitas, pedet lahir lemah atau lahir mati (stillbirth), serta turunnya produksi susu. Metode yang digunakan dalam diagnosa Brucellosis, seperti uji RBT (Rose Bengal Test), SAT (Serum Aglutination Test) dan CFT (Complement Fixation Test) merupakan metode yang paling sering dipakai (Noor 2018). 


  1. Upaya Tindakan Eradikasi terhadap Penyakit Brucellosis di Populasi Sapi Perah 

Brucellosis merupakan penyakit zoonotik yang disebabkan oleh bakteri genus Brucella (Ahzan et al. 2021). Di Indonesia, Bucellosis paling umum ditemukan pada ternak sapi (baik sapi potong maupun sapi perah) dan dikenal sebagai penyakit keluron menular. Brucellosis sudah bersifat endemis di Indonesia dan biasanya muncul sebagai epidemi pada banyak peternakan sapi perah di Jakarta, Bandung, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Meskipun tingkat kematian akibat brucellosis adalah kecil, namun penyakit ini sangat penting secara ekonomi. Secara umum, kerugian yang paling nyata pada ternak adalah keguguran (abortus), anak mati saat lahir (still birth), dan kemajiran baik yang sifatnya sementara maupun permanen. Pada sapi perah, selain kegagalan kebuntingan penyakit ini juga mengakibatkan penurunan produksi susu (Anis 2019). 

Brucellosis merupakan salah satu penyakit hewan menular strategis karena penularannya sangat cepat antar batas dan lintas daerah, sehingga diperlukan pengaturan lalu lintas hewan yang ketat (Novita 2016). Tindakan eradikasi pada kasus Brucellosis di Indonesia sangat diperlukan. Tindakan yang diambil harus mempertimbangkan tingkat prevalensi Brucellosis di suatu wilayah (Anis 2019). Menurut pendapat kami, tindakan eradikasi yang perlu dilakukan dalam penanganan kasus Brucellosis adalah melakukan penelusuran ternak yang positif Brucellosis, penyembelihan terhadap hewan yang bereaksi positif Brucellosis dan pengendalian lalu lintas ternak.

  1. KESIMPULAN


Brucellosis merupakan penyakit pada hewan yang disebabkan oleh bakteri Brucella sp. yang dapat ditularkan melalui melalui fetus, plasenta, lendir vagina, semen, urin, air liur, cairan dari rongga hidung dan mata, susu, serta feses. Brucella spp. bersifat patogen terhadap manusia dan hewan, dan mengakibatkan kerugian ekonomi yang sangat besar pada suatu peternakan. Beberapa metode uji yang dapat digunakan adalah Uji RBT (rose bengal test), uji SAT (serum aglutination test) dan uji CFT (complement fixation test). Metode diagnosis yang cepat dan tepat sangat penting untuk menanggulangi bahaya yang dapat ditimbulkan pada ternak dan manusia. Penerapan konsep One Health hendaknya dilakukan juga dalam pengendalian penyakit ini, yaitu identifikasi sumber infeksi secara akurat dan pengembangan strategi pengendalian yang melibatkan berbagai bidang termasuk pemerintah dan juga masyarakat. Tindakan eradikasi yang perlu dilakukan dalam penanganan kasus Brucellosis adalah melakukan penelusuran ternak yang positif Brucellosis, penyembelihan terhadap hewan yang bereaksi positif Brucellosis dan pengendalian lalu lintas ternak.

DAFTAR PUSTAKA

[FAO] Food and Agriculture Organization. 2008. Fisheries and Aquaculture Circular No. 1034: A Review On Culture, Production and Use of Spirulina as Food For Humans and Feeds For Domestic Animals and Fish. Rome : ISBN 978-92-5- 106106-0.

Ahzan NA, Muhasirah, Nurhayati, Rosmiaty. 2021. Zoonotic surveilance (brucellosis) in Enrekang district South Sulawesi Province. Pancasakti Journal of Public Health Science and Research. 2(1):122-127.

Anis S. 2019. Studi tingkat penyakit brucellosis sebagai dasar penentuan arus prevalensi dalam program pembebasan brucellosis di Kabupaten Kepulauan Selayar. Buletin Diagnosa Veteriner. 18(1): 9-17.

Arut AF, Maghfiroh K, Saputra D, Ariyanti T, Octaviani R, Rahma N, Afrilia GN. 2010. Booklet Beberapa Penyakit Zoonosis: Brucellosis. Bogor (ID): Fakultas Kedokteran Hewan IPB.

Avila-Calderón ED, Lopez-Merino A, Sriranganathan N, Boyle SM, Contreras-Rodríguez A. 2013. A history of the development of brucella vaccines. BioMed Research International. 2(13): 1-8.

Dewi, A.K. 2009. Kajian brucellosis pada sapi dan kambing potong yang dilalulintaskan di penyebrangan merak banten [Tesis]. Bogor (ID): Institut Pertanian Bogor. 

Doganay, Mehmet, Aygen B. 2003. Brucellosis in human: an overview. International Journal of Infectious Disease. 7 (3) : 173-176.

Ghanbari MK, Gorji HA, Behzadifar M, Sanee N, Mehedi N, Bragazzi NL. 2020. One health approach to tackle brucellosis: a systematic review. Tropical Medicine and Health. 48(1): 1-10.

Hidayat R. 2010. IPB Kembangkan Vaksin Alternatif Brucellosis. Diakses pada [2021 Agustus 28]. Terdapat pada : www.republika.co.id.

Noor SM. 2018. Teknik Molekuler Amplifikasi DNA untuk Deteksi Brucellosis pada Sapi. WARTAZOA. 8(2) : 81-88.

Novita R. 2016. Brucellosis: penyakit zoonosis yang terabaikan. BALABA. 12(2):135-140.

Palgunadi BU, Roeswandono, Fa'za AL, Kurnianto A. 2019. Deteksi brucellosis pada sapi perah peranakan friesian holstein di kecamatan Pagu Kabupaten Kediri. Jurnal Vitek Bidang Kedokteran Hewan. 9(1): 28-32.

Pudjiatmoko. 2014. Manual Penyakit Hewan Mamalia. Jakarta (ID): Kementrian Pertanian. 


Samkhan. 2014. Analisis penyakit brucellosis dalam menyongsong penanggulangan pemberantasan dan pembebasan brucellosis di Indonesia tahun 2015. Buletin Laboratorium Veteriner. 14 (1): 1-9.


Sulaiman I, Poermadjaya B. 2004. Uji Lapang keamanan vaksin brucella abortus strain RB51 pada sapi perah di Kecamatan Cisarua, Bogor. Jurnal Ilmu Kesehatan. 2(1): 45-54.


Susanti E. 2013. Analisa ekonomi brucellosis [internet]. Diakses pada [2021 Agustus 28]. Terdapat pada : http://elysusanti-vet.blogspot.com/2013/05/contoh-analisa-ekonomi-akibat.html.


Comments

Popular posts from this blog

perbedaan pemberian pakan domba dalam negeri dan luar negeri

Tegak kaki dan diagnose kepincangan kuda-sapi

Inseminasi Buatan pada Ayam

TUGAS SOSIOLOGI UMUM 'TAK CUKUP DEKLARASI DAMAI'

CONTOH DRAMA MPLS

Leukosit

Translate

Pageviews last month

terima kasih

jangan lupa datang kembali, komen, dan request