Toksisitas Lantana sp.

 

         Lantana camara terdistribusi secara merata di daerah tropis, beriklim sedang seperti Amerika Tengah dan Selatan, Australia, Afrika, dan Indonesia. Tanaman ini merupakan semak belukar, umumnya tinggi mencapai 1-4 m. Saat masih muda, batang berwarna hijau berbentuk agak persegi, dan berduri dengan diameter 2-4 mm, serta akan menjadi lebih bulat berwarna abu-abu kecoklatan dengan diameter 150 mm saat dewasa. Daunnya tunggal, duduk berhadapan, bentuk bulat telur dengan ujung meruncing dan bagian pinggirnya bergerigi, Panjang 5-8 cm, lebar 3,5-5 cm, warna hijau tua, tulang daun menyirip, permukaan atas berbulu banyak, kasar, dan permukaan bawah berbulu jarang. Bunganya majemuk bentuk bulir, mahkota bagian dalam berbulu, berwarna putih, merah muda, jingga, kuning, dan masih banyak warna lainnya. Buahnya seperti buah buni dan berwarna hitam mengkilat bila sudah matang (Bhagwat et al. 2012).



Klasifikasi tanaman Lantana camara sebagai berikut (Mishra 2015):

Kingdom : Plantae

Divisi : Spermatophyta

Subdivisi : Magnoliophyta - Angiospermae

Kelas : Magnoliopsida - Dicotyledonae

Ordo : Lamiales

Famili : Verbenaceae

Genus : Lantana

Spesies : Lantana camara 


          Lantana camara telah digunakan di banyak bagian dunia untuk mengobati berbagai macam kelainan. Di Amerika Tengah dan Selatan, daunnya dibuat menjadi tapal untuk mengobati luka, cacar air dan campak, demam, pilek, rematik, asma dan tekanan darah tinggi. Di Ghana, infus seluruh tanaman digunakan untuk bronkitis dan akar bubuk dalam susu diberikan pada anak-anak untuk sakit perut. Di India daun tanaman Lantana camara direbus sebagai teh dan ramuan itu adalah obat untuk mengatasi batuk dan juga digunakan sebagai obat topikal untuk luka, bisul dan pembengkakan. Lantana camara dapat digunakan sebagai antioksidan, antimikroba, antifungi dan antivirus, memiliki aktivitas antiulcerogenic, antipiretik, antihiperglikemia, antihelentic, dan dapat menghambat pertumbuhan larva nyamuk (Mamta et al. 2012).

    Meskipun telah banyak digunakan sebagai tanaman obat, tanaman ini juga banyak dikenal sebagai tanaman yang mengandung racun, terutama bagi hewan. Lantana camara memiliki kandungan senyawa kimia seperti alpha-lantadene (0,31-0,68%), beta-lantadene (0,2%), lantanolic acid, lantic acid, minyak atsiri, beta-caryophyllene, gamma-terpinene, alpha-pinene, dan p-cymene. Kandungan lantadene, terutama alpha-lantadene merupakan zat yang bersifat toksik bagi hewan. Lantadene dapat menyebabkan mual, muntah, diare, sesak napas, gagal ginjal, gagal jantung, dan bahkan kematian. Buahnya lebih berpotensi menyebabkan gejala keracunan ketika dikonsumsi (Carstairs et al. 2010).


Topik materi 


Lantana adalah satu tanaman hias yang ditanam atau tumbuh di lingkungan rumah. Konsumsi bagian tanaman ini menyebabkan kelesuan, kelemahan, kehilangan nafsu makan, pengelupasan kulit, ikterus, dan bahkan kematian. 


Tujuan


Penulisan makalah ini bertujuan untuk mengetahui paparan serta respon toksisitas Lantana pada tubuh.



PEMBAHASAN



  1. Proses Paparan Toksikan


Tanaman Lantana sp. biasanya tumbuh secara liar ataupun sebagai tanaman hias di sekitar pekarangan rumah dan ditemukan pada dataran rendah yang terkena sinar matahari. Sapi yang diternakkan dengan bebas berpotensi terkena toksikan ini.  Paparan toksikan didapatkan dengan pendekatan epidemiologi dimana toksikan dalam hal ini adalah Lantana sp. akan masuk ke dalam tubuh melalui oral sebagai pakan sapi (Sobari 1983). Lantana sp. menjadi toksik karena mengandung Lantadene-A yang bersifat hepatotoksik sehingga meningkatkan kepekaan kulit terhadap fotosensitisasi.



  1. Perjalanan Toksikan di Dalam Tubuh


Setelah masuk ke dalam tubuh, senyawa toksikan yang dihasilkan oleh Lantana sp., yaitu lantadene, akan diabsorbsi melalui seluruh  bagian dari saluran gastrointestinal, terutama usus halus (Sharma et al. 2007 dalam Govindaiah et al. 2021). Lantadene setelah diabsorpsi oleh tubuh akan ditransportasikan ke hati melalui pembuluh porta. Senyawa ini memiliki struktur yang menyerupai kolesterol, sehingga terdapat kemungkinan bahwa senyawa ini juga melalui proses esterifikasi oleh enzim cholesterol esterase (Kumar et al. 2016).

Dalam hati, senyawa lantadene kemudian mengalami biotransformasi oleh enzim sitokrom P-450 pada hati, menjadi sebuah senyawa toksik yang dapat merusak kerja empedu dan hati (Govindaiah et al. 2021). Membran kanalikuli empedu diketahui merupakan situs kerusakan utama pada kejadian toksikasi oleh Lantana sp. Lantadene mengalami biotransformasi dan disposisi sehingga menyisakan derivat berupa lantadene A tereduksi (RLA), lantadene B tereduksi (RLB), serta dua metabolit lainnya yang masih belum dapat diidentifikasi. Hasil metabolit tersebut ikut diekskresikan melalui saluran gastrointestinal bawah dan terdapat dalam feses (Jamkhandea et al. 2013).


  1. Respons Tubuh terhadap Toksikan


Respon yang muncul akibat toksikan dari tanaman lantana sp. diantaranya seperti sapi-sapi lesu, lemah dan tidak mau makan, kurang lebih 80% dari sapi-sapi yang mati memperlihatkan gejala kulit yang mengelupas secara simetrik. Kelainan ini tersebar di bagian telinga, kepala, badan dan kaki-kakinya. Semua sapi yang sakit, kotorannya keras, sering bercampur darah dan berbau busuk. Beberapa diantaranya memperlihatkan luka-luka pada cermin hidungnya atau hanya kering saja. Semua sapi yang sakit memperlihatkan kepucatan dan beberapa di antaranya juga ikterus. Beberapa sapi diantaranya memperlihatkan kencing nanah. Terdapat juga perdarahan dari lubang hidung, mulut, anus, dan vulvanya. Jika sapi-sapi tersebut ditaruh di bawah sinar matahari, napasnya akan sesak dan sapi akan segera berteduh (Sobari 1983).

Lesi-lesi akibat gejala klinis yg muncul tersebut dilukiskan seperti terjadi pengelupasan kulit yang siretrik di bagian telinga, kepala dan beberapa tempat pada bagian badan dan kaki. Limfoglandula di bawah kulit ada yang membengkak. Adanya luka-luka pada cermin hidung dan bibir bawah. Terlihat tinja yang keras menyumbat usus besarnya. Trakhea terlihat hiperaemik. Dilaporkan juga adanya pneumonia, limpa dan hati membengkak, kandung empedu membesar dan urine ada yang berdarah (Sobari 1983).




  1. Penanganan yang Dapat Diberikan bagi Korban Toksikasi 


Penyakit Bali ziekte yang disebabkan oleh toksikasi tanaman Lantana camara menyebabkan sapi menjadi sensitif terhadap sinar matahari. Tingkat kesembuhan dari penyakit ini cukup tinggi apabila dilakukan pengobatan yang cepat. Namun jika pengobatan terlambat dilakukan dan telah menimbulkan kerusankan pada renal, maka penyakit ini akan sulit untuk disembuhkan (Triakoso 2013). Pada kejadian yang akut penyakit bali ziekte susah disembuhkan, tetapi pada keadaan dimana kadar Lantana camara yang dimakan masih sedikit maka kemungkinan sembuh masih bisa 70- 90% (Leestyawati 2015).

Pengobatan spesifik untuk toksisitas lantana masih sedikit, sedangkan tindakan pencegahan dibilai lebih efektif daripada tindakan kuratif untuk mengurangi efek berbahaya dari tanaman ini. Beberapa metode pengobatan konvensional yang dapat diterapkan pada kasus keracunan lantana menurut Kumar (2016) adalah sebagai berikut: 

  • hewan yang keracunan dijauhkan dari cahaya, diberikan terapi cairan dan pakan yang cukup;

  • pemberian arang aktif 5g/kg berat badan dengan elektrolit dalam stomach tube dalam waktu 24 jam untuk mengurangi penyerapan lantadenes;

  • pemberian bentonit 5g/kg berat badan; jauh lebih murah daripada arang tetapi membutuhkan waktu lebih lama untuk menunjukkan efek yang diinginkan;

  • pemberian serbuk tefroli yang diperoleh dari tanaman Tephrosia purpurea;

  • pemberian oral sediaan tonik hati seperti Liv-52;

  • pemberian vitamin B kompleks;

  • pembersihan enzim bilirubin dengan bilirubin-oksidase efektif pada penanganan jaundice;

  • pemberian teh herbal, yaitu Yin Zhi Huang (YZH) dari kapiler Artemisia, efektif untuk penyakit jaundice neonatal;

  • penggunaan tanaman herbal seperti Tinospora cordifolia, Gingko biloba, Berberis lycium dan Hippophae salicifolia juga menunjukkan efek perbaikan pada toksisitas yang diinduksi L. camara pada marmut;

  • Vaksinasi juga dapat dilakukan tetapi bukan merupakan tindakan yang efektif;

  • strain bakteri seperti Pseudomonas pickettii, Alcaligenes faecalis dan Alcaligenes odorans dapat digunakan untuk menurunkan kadar Lantadene A;

  • rumenotomi dapat dilakukan untuk mengosongkan seluruh saluran GI.





SIMPULAN


Paparan zat toksikan Lantana sp. dapat masuk ke dalam tubuh melalui jalur oral, misalnya pada hewan ternak yang dibiarkan merumput secara bebas. Di dalam tubuh, zat toksikan akan diabsorpsi pada saluran gastrointestinal dan dimetabolisme di hati sehingga dapat merusak membran kanalikuli empedu. Kerusakan pada fungsi hati dan empedu menyebabkan beberapa gangguan pada hewan, terutama fotosensitisasi. Penanganan yang dapat dilakukan untuk menurunkan kadar lantadene dalam tubuh misalnya pemberian arang aktif, obat herbal, vitamin B12, serta rumenotomi.




DAFTAR PUSTAKA 


Bhagwat SA, breman E, Thekaekara T, Thornton TF, Wilis KJ. 2012. A battle lost? Report on two centuries of invasion and management of lantana camara l. In australia, india and south Africa. Plos One. 7(3): 1-10.

Carstairs SD, Luk JY, Tomaszewski CA, Cantrell FL. 2010. Ingestion of lantana camara is not associated with significant effects in children. Pediatrics. 6(126): 1-6.

Govindaiah K, Biradar R, Gupta VMD, Munivenkatappa BS. 2021. Lantana Toxicity in Grazing Cattle. The Indian Journal of Veterinary Sciences and Biotechnology. 17(1): 85-88.

Jamkhandea PG, Tolsarwada GS, Tidkeb PS. 2013. Herbal hepatotoxicity: A review on phytochemical induced liver injury. Journal of Applied Pharmaceutical Science. 3(8): S106-S110.

Kumar R, Katiyar R, Kumar S, Kumar T, Singh V. 2016. Lantana camara: An alien weed, its impact on animal health and strategies to control. Journal of Experimental Biology. 4(3S): 321-337.

Leestyawati NW. 2015. Penyakit Khas Sapi Bali Dan Kiat Pencegahannya. Bali(ID): Dinas Peternakan Dan Kesehatan Hewan Provinsi Bali.

Mamta S, Jyoti S, Sarita K. 2012. A brief review on: Therapeutical values of Lantana camara plant. International Journal of Pharmacy & Life Sciences. 3(3): 1-4.

Mishra A. 2015. Allelopathy: Natural and an environment-friendly unique tool for weed control. International Journal of Advanced Research in Engineering and Applied Sciences. 4(1): 26-31.

Sobari. 1983. Kasus kematian sapi Bali di Kabupaten Donggala akibat keracunan Lantanan camara. Jurnal Hemera Zoa. 71(2): 141-144.

Triakoso N. 2013. Penyakit Non Infeksius pada Ternak. Surabaya(ID): Universitas Airlangga.



Comments

Popular posts from this blog

HUBUNGAN SERAPAN DENGAN KADAR ZAT DALAM LARUTAN

MATERI KERAJINAN BERBAHAN LIMBAH LENGKAP

Sejarah Jambu Kristal (Psidium guajava L.)

Tegak kaki dan diagnose kepincangan kuda-sapi

Laporan wawancara budidaya ikan konsumsi ( ikan lele )

Prolapsus Bola Mata yang Disertai Miasis pada Anjing

Translate

Pageviews last month

terima kasih

jangan lupa datang kembali, komen, dan request