Infeksi Mycoplasma gallisepticum

PEMBAHASAN

  1. Jelaskan faktor virulensi apa saja yang dimiliki Mycoplasma gallisepticum serta bagaimana patogenesa dan transmisi pepenyakitnya

Etiologi

Mycoplasma gallisepticum Merupakan bakteri prokariot yang bersifat anaerob, tidak memiliki dinding, dan dilapisi 3 plasma. Bakteri ini memiliki ukuran 0,25-0,50 mikron, berbentuk pleomorfik, biasanya kokoid dan tidak mempunyai dinding sel sejati (Soeripto 2009). Bakteri ini dapat diwarnai dengan pewarna gram negatif. Bakteri ini menyerang saluran pernapasan ayam yang ditandai dengan adanya ngorok di malam hari (Rahminawati et al. 2010). Bakteri ini dapat menyebabkan penyakit chronic respiratory disease (CRD). Penyakit yang disebabkan oleh bakteri ini dapat menyebabkan banyak kematian pada ayam dan dapat berdampak terhadap perekonomian industri unggas. 


Adapun klasifikasi bakteri mycoplasma sebagai berikut: 

Kingdom : Bacteria 

Phylum : Tenericutes atau Firmicutes 

Class : Mollicutes 

Order : Mycoplasmatales 

Family : Mycoplasmataceae 

Genus : Mycoplasma 

Spesies : Mycoplasma gallisepticum 

(Ley 2008). P


Faktor virulensi

Mycoplasma memiliki ciliostatik yang merupakan faktor yang menyebabkan lemahnya aktivitas silia,  bakteri ini juga mensekresikan hidrogen peroksida yang berasal dari metabolisme gliserol dan dapat menyebabkan stress oksidatif pada sel inang. Rusaknya silia dan sel stress oksidatif menyebabkan penyakit lain mudah menginfeksi inang (Szczepanek et al.  2014).



Patogenesa

Mycoplasma gallisepticum dapat menyerang ayam secara perlahan-lahan dan berlangsung cukup lama secara terus-menerus. Bakteri ini masuk melalui saluran pernapasan terutama pada bagian kantung udara. Masa inkubasi terjadinya penyakit ini adalah 6-21 hari (Murtidjo 2006). Bakteri ini akan menempel pada reseptor epitel yang disebut sialoglycoprotein. Kemudian akan menempel dan merusak mukosa epitel sambil memperbanyak diri. Mycoplasma memiliki ciliostatic yang merupakan faktor yang dapat menyebabkan aktivitas silia melemah. Mycoplasma gallisepticum merupakan salah satu dari beberapa Mycoplasma yang mensekresikan hidrogen peroksida yang dapat menyebabkan stress oksidatif pada membran sel inang. Meskipun dipandang sebagai patogen pada permukaan mukosa, saat ini diketahui bahwa Mycoplasma gallisepticum memiliki kemampuan untuk menyerang sel dan mengganggu mekanisme transpor sel. Rute utama keluarnya Mycoplasma gallisepticum dari inang adalah melalui traktus respiratorius dan infeksi dari traktus genitalia yang dapat menyebabkan kontaminasi pada telur atau semen. Gejala penyakit yang timbul antara lain ayam kehilangan nafsu makan secara tiba-tiba dan terlihat lesu, batuk, ngorok, bersin, terjadi pembengkakan di daerah sinus infraorbital, warna bulu pucat, kusam dan di beberapa lokasi terjadi perlengketan terutama di sekitar anus, terjadi inkoordinasi saraf serta tinja cair berwarna putih (Aditya 2011).

Transmisi

Transmisi bakteri Mycoplasma gallisepticum  dapat terjadi secara horizontal dan vertikal. Penularan secara horizontal dapat berupa kontak langsung dari hewan ke hewan dan yang tidak langsung melalui makanan, air minum, debu, peralatan kandang yang tercemar oleh M. gallisepticum dan melalui udara dengan jarak yang tidak melebihi 6 meter. Penularan secara vertikal terjadi lewat telur yang dihasilkan oleh induk penderita. Derajat penularan tertinggi terjadi pada waktu induk baru terpapar infeksi mencapai 35% dan menurun menjadi 1% setelah 2-4 bulan kemudian (Soeripto 2009).



  1. Diagnosa Laboratorium

Menurut OIE (2018), terdapat beberapa cara deteksi Mycoplasma gallisepticum yaitu metode identifikasi agen, deteksi asam nukleat, dan uji serologis. Metode identifikasi agen dapat dilakukan salah satunya dengan teknik kultur. Sampel diambil dari unggas hidup, karkas segar atau karkas segar yang dibekukan. Sampel dari unggas hidup didapatkan dengan melakukan swab dari celah choanal, orofaring, kerongkongan, trakea, mata, kloaka dan phallus. Sampel dari unggas mati diambil dari rongga hidung, sinus infraorbital, trakea, atau kantung udara. Sampel berupa eksudat dapat diaspirasi dari sinus infraorbital dan rongga sendi. Media pertumbuhan mycoplasma umumnya mengandung protein digesti dan basis meat-infusion yang ditambahkan serum atau fraksi serum, faktor ragi, glukosa dan penghambat bakteri. Media kultur diamati  perubahan warna dari merah menjadi oranye atau kuning pada indikator yang menandakan adanya perubahan keasaman. Setiap pertumbuhan yang dapat diamati segera disubkultur ke media padat, di mana biasanya koloni mycoplasma dapat dikenali pada media padat. Reaksi biokimia juga dapat dilakukan untuk membantu identifikasi, misalnya uji fermentasi glukosa dan hidrolisis arginine, tetapi hasilnya tidak spesifik untuk Mycoplasma gallisepticum dan memerlukan pemurnian kultur dengan kloning.

Metode imunologis juga dapat digunakan untuk mengidentifikasi isolat mikoplasma, di antaranya uji indirect fluorescent antibody (IFA) dan immunoperoxidase (IP), growth inhibition (GI) dan metabolism inhibition (MI). Uji IFA dan IP keduanya sederhana, sensitif, spesifik dan cepat untuk dilakukan, serta dapat mendeteksi keberadaan lebih dari satu spesies mikoplasma, karena koloni spesifik untuk antiserum akan bereaksi sedangkan yang lain tidak. Kultur murni (kloning) diperlukan untuk tes GI dan MI, tetapi tidak untuk tes IFA atau IP. Alternatif lain dari teknik kultur dan identifikasi konvensional adalah dengan menggunakan metode deteksi DNA spesifik. Urutan untuk uji deteksi DNA yaitu isolasi DNA, polimerase chain reaction (PCR) dan elektroforesis. Tes serologis yang umum digunakan dalam deteksi Mycoplasma gallisepticum biasnya bersifat kurang spesifik dan kurang sensitif. Penggunaannya uji serologis lebih disarankan untuk monitoring kawanan daripada untuk menguji unggas secara individual. Uji serologis yang paling umum digunakan adalah rapid serum agglutination test (RSA), Enzyme-linked immunosorbent assay (ELISA) dan haemagglutination inhibiton test (HI) (OIE 2018). 

  1. Langkah-langkah apa saja yang akan dilakukan apabila mendapati gejala klinis yang mengarah pada infeksi Mycoplasma gallisepticum

Bila CRD menyerang, biasanya seluruh kelompok ayam terkena meskipun derajat keparahannya berbeda. Tanpa komplikasi kelompok ayam yang terserang CRD, tidak menunjukkan gejala klinis yang jelas (Direktorat Kesehatan hewan 2014). Perkembangan klinis penyakit tergantung pada keberadaan patogen lain ataupun faktor cekaman atau stres, kecuali untuk unggas muda. Gejala klinis bervariasi bergantung pada derajat keparahan infeksi. Gejala klinis diawali dengan keluarnya cairan eksudat bening (catarrhal) dari rongga hidung, bersin, batuk, ngorok, kebengkakan pada kelopak mata, dan radang konjunctiva (conjunctivitis) (Nneomaokwara 2016). Jika infeksi berlanjut dan disertai dengan infeksi sekunder maka eksudat hidung dapat menjadi kental. Gejala pernafasan kemudian diikuti dengan turunnya nafsu makan, berat badan, dan produksi telur. Lesio yang sering ditemukan berupa sinusitis, tracheitis, air sacculitis, dan mucus pada trakhea (Soeripto 2009).

Masa tunas CRD berkisar antara 4-21 hari. Bila CRD menyerang, biasanya seluruh kelompok ayam terkena meskipun derajat keparahannya berbeda. Tanpa komplikasi kelompok ayam yang terserang CRD, tidak menunjukkan gejala klinis yang jelas. Pada kelompok ayam dewasa menunjuk tanda terdapat sekresi hidung katar yang makin lama makin bertambah, batuk, dan bersuara pada waktu bernafas. Sebagian ayam yang terserang, menunjukkan muka bengkak akibat tertimbunnya eksudat dalam sinus infraorbitalis (OIE 2018).

(Dinev 2007)

Langkah awal jika ditemukan infeksi yang mengarah Mycoplasma gallisepticum, pertama mengisolasikan ayam yang diduga memiliki gejala klinis mycoplasma. Lalu, laporkan kepada dinas yang membidangi fungsi peternakan dan Kesehatan hewan setempat dan diteruskan ke direktorat jendral oeternakan dan Kesehatan hewan. Kemudian obat yang digunakan ialah tylosin, spiramycin, oxytetracycline, streptomycin, spektinomisin, linkomisin, dan beberapa golongan kuinolon seperti enrofloksasin dan norflosasin. Pengobatan ini hanya bermanfaat pada tahap permulaan penyakit, untuk mencegah terjadinya radang pada kantong udara atau synovitis. Sebaiknya diberi pengobatan suportif seperti pemberian vitamin yang bertujuan untuk mempercepat proses kesembuhan (OIE 2018).

  1. Agar penyakit tidak menyebar dalam populasi dan menimbulkan kerugian, langkah apa yang diambil dalam pengendalian.

Mycoplasmosis merupakan penyakit yang endemik patogen yang disebabkan Mycoplasma gallisepticum (MG). Infeksi penyakit ini sangat berkaitan erat dengan program biosekuriti dan kesehatan. Kontrol Mycoplasmosis dapat dilakukan dengan biosekuriti yang ketat yang meliputi pengawasan terhadap lalu lintas ayam, produksi, pekerja dan staf  kandang, peralatan, serta kendaraan yang masuk ke dalam kawasan peternakan. Dekontaminasi terhadap kandang, peralatan, pakaian pekerja, orang, serta kendaraan yang masuk wilayah peternakan harus diterapkan dengan ketat.  Selain itu, fumigasi harus dilakukan setelah pemakaian kandang. Bangkai ayam, telur, kotoran ternak, dan pakan yang terkontaminasi infeksi Mycoplasma gallisepticum (MG) harus dibakar dan dikubur  (Soeripto 2009). Pengendalian MG dapat dilakukan dengan cara pemisahan dan menjaga ayam bibit maupun telur tetas bebas dari infeksi organisme tersebut.

Bentuk pengendalian lain yang dapat digunakan adalah monitoring dengan uji serologi untuk mendeteksi terjadinya infeksi secara berkala, sehingga jika terdeteksi adanya infeksi MG, maka pengobatan dini dapat segera dilakukan. Uji serologi seperti SAC, IH, dan ELISA sangat baik untuk monitoring infeksi. Kontrol Mycoplasmosis baik yang disebabkan oleh MG atau MS dapat  juga menggunakan sistem all-in-all-out, yang dapat dilakukan  pada pemeliharaan ayam yang mempunyai umur seragam, tetapi sulit untuk dilaksanakan pada pemeliharaan ayam yang umurnya bervariasi. Pengobatan biasanya dilakukan dengan menggunakan antibiotika makrolida seperti tiamulin, tylosin, lincomycin, oxytetracycline, dan enrofloxacin yang memiliki daya kerja menghambat sintesis protein. Namun, pengobatan untuk mengontrol Mycoplasmosis bukanlah cara terbaik karena dikhawatirkan akan meninggalkan residu obat. Perlu dilakukan program vaksinasi, karena selain dapat meningkatkan ketahanan tubuh ayam, juga dapat menghindarkan bakteri Mycoplasma gallisepticum dari resistensi terhadap antibiotika dan residu antibiotika di dalam produk ayam.


KESIMPULAN

Mycoplasma gallisepticum (MG) menyebabkan penyakit Chronic Respiratory Disease (CRD). MG mengeluarkan hidrogen peroksida yang dapat merusak silia dan merupakan faktor virulensi bakteri ini. Bakteri ini masuk melalui saluran pernapasan terutama pada bagian kantung udara. Transmisi bakteri MG dapat terjadi secara vertikal dan horizontal. Metode identifikasi bakteri ini salah satunya dapat dilakukan dengan teknik kultur. Pengendalian infeksi bakteri ini dapat dilakukan dengan penerapan biosekuriti dan kesehatan yang tepat di peternakan.

DAFTAR PUSTAKA

[OIE] World Organisation of Animal Health. 2018. Avian mycoplasmosis (Mycoplasma gallisepticum, M. synoviae). OIE Terrestrial Manual [internet]. Tersedia pada: https://www.oie.int/fileadmin/Home/eng/Health_standards/tahm/3.03.05_%20AVIAN_MYCO.pdf. Hlm 844-859.

Aditya T. 2011. Efektivitas desinfektan kombinasi glutaraldehid dan poli dimetil amonium klorida terhadap total bakteri pada kandang ayam petelur [Skripsi]. Surabaya (ID): Universitas Airlangga.

Dinev I. 2007. Deseases Of Poultry. Stara Zagora (BG): Ceva Sante Animal.

Direktorat Kesehatan Hewan. 2014. Manual Penyakit Unggas. Subdit Pengamatan Penyakit Hewan Direktorat Kesehatan Hewan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian. Jakarta (ID).

Ley DH. 2008. Mycoplasma gallisepticum Infection. In: Diseases of Poultry 12th Edition. USA: Blackwell Publishing Professional.

Murtidjo BA. 2006. Pengendalian Hama dan Penyakit Ayam. Yogyakarta (ID): Kanisius.

Nneomaokwara. 2016. Avian Mycoplasmosis: A Review. IOSR Journal of Agriculture and Veterinary Science. 9(5): 6-10.

Rahminiwati M, Mustika AA, Saadia S, Andriyanto, Soeripto, Unang P. 2010. Bioprospeksi ekstrak jahe gajah sebagai anti CRD:kajian aktivitas antibakteri teradap Mycoplasma galisepticum dan E .coli.d Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia. 15(1):7-13.

Soeripto. 2009. Efikasi Tiamulin hydrogen fumarat 10% pada pakan untuk pencegahan chronic respiratory diseases pada ayam potong. JITV. 13(1): 67 – 73. 

Soeripto. 2019. Chronic respiratory disease (CRD) pada ayam. WARTAZOA. 19(3): 134-142.

Szczepanek SM,  boccaccio M, Pflaum K,  Geary SJ.2014. hydrogen peroxide production from glycerol metabolism is dispensable for virulence of mycoplasma gallisepticum in the tracheas of chicken. Infect Immun. 82(12):4915-4920


Comments

Popular posts from this blog

TORSIO UTERI

Data Apa Saja yang Bisa Dihasilkan Oleh Teknologi RFID dalam Industri Peternakan

MATERI KERAJINAN BERBAHAN LIMBAH LENGKAP

SENSORIK UMUM (SISTEM SENSORIK SOMATIS) dan REFLEKS

Infestasi larva lalat (Miasis) pada Kucing Domestik

CONTOH DRAMA MPLS

Translate

Pageviews last month

terima kasih

jangan lupa datang kembali, komen, dan request