cerpen ; Perjuangan Seekor Ibu Kucing
Perjuangan Seekor Ibu Kucing
Saat tengah malam, aku
mengantuk berat dan tertidur di kasur
bawah. Aku tertidur pulas. Dan beberapa menit, aku terbangun dari tidurku
karena mendengar teriakan kucing yang begitu kencang di sampingku. Tak tahu
dari mana kucing itu dapat masuk ke rumahku yang terkunci rapat. Aku terkejut
dan Ayahku terbungun juga dan cepat-cepat mengambil dan mengeluarkan kucing itu
dari rumah. Aku dan Ayahku elanjutkan tidur malam yang tertunda.
Dan keesokan harinya, aku
mendengar seekor kucing yang tadi malam mengacau tidurku mengeong-ngeong dengan
keras juga di atap rumahku. Aku dan Ibuku selalu mengabaikan kucing itu dalam
kegiatanku.
Pada sore harinya, tak hanya seekor kucing yang besar, tetapi aku
mendengarkan suara kucing yang kelihatanya baru saja lahir. Saat itu, aku dan
ibuku sedang memasak di dapur heran dan bertanya-tanya, “Bagaimana bisa kucing
melahirkan di atap rumahku?” seru ibuku dengan penuh keheranan, “Hahhhh kucing
yang sungguh aneh”, tambahku. Tetapi setelah beberapa menit, ibu kucing turun
dari atapku keliatan dengan penuh kebingungan dan kecemasan. Lari kesana kesini
sambi lmengeong-ngeong. “Makanya kalau mau menlahirkan jangan keatas genteng,
jadi bingung mau turun kan?” sahut ibuku, “Biarlah buk, hanya seekor kucing
kok”. Lalu ibu kucing membuntutiku kemanapun aku pergi dan mengeong-ngeong,
“Meong .... meong .... meong .... “. Aku mengira kucing itu lapar dan ingin
meminta makan. “Ika ... ambilah nasi dan ikan asin, lalu campurlah dan berikan
kepada kucingnya”, “ Yaa Buk ...”. Aku pun membrikan makan kepada kucing itu,
tetapi kucing itu tak bermaksud untuk makan.
Dan akhirnya akupun sadar
bahwa ibu kucing itu mengeong tak ingin makan melainkan ingin meminta tolong
kepadaku untuk menolong anaknya yang sedang di atap rumahku. Aku langsung ingin
menolong anaknya, tetapi Ibuku mnyuruh ku untuk mengembalikan piring yang
dipinjamnya ke rumah temanku. Dan aku mengembalikan piring itu terlebih dahulu
ke rumah teman. Akan tetapi, temanku sedang mandi dan mengajak ku untuk
membantunya mematikan kompor yang sedang dinyalakan.
Setelah itu, saya pulang dan bergegas untuk mencari tangga untuk
naik ke atap rumahku. Lalu aku meminta tolong kepada Neneku untuk memegang
tangga itu. Ku letakan ujung tangga itu ke atap rumahku dan menaikinya. Tetapi
“Ika kamu mau ngapain ke atas rumah?”, “Aku mau menolong anak kucing yang ada
di atas rumah Nek”, “Anak kucing? Bukankah itu anak kucingnya”.
Anak kucing itu rupanya tak mau menungguku lama dan ingin turun,
akhirnya dia terjatuh dari atap rumah ku. Dan dia pun mati. Aku pun menyesal
karena hal yang lebih darurat ku tinggalkan.
Karya : Ika jangan lupa datang kesini lagi terimakasih telah mampir......


Comments
Post a Comment