Usaha Budidaya Jangkrik, Ternak Jangkrik, Potensi Jangkrik, Nilai Ekonomi Jangkrik, Pengembangan Peternakan Jangkrik

https://www.pexels.com/id-id/pencarian/jangkrik/

Krisis ekonomi yang melanda Indonesia memberikan berbagai dampak, salah satunya adalah ketersediaan lapangan kerja yang menurun, yang disebabkan banyak usaha yang gulung tikar atau bangkrut. Oleh karena itu masyarakat mencari peluang usaha lain yang berpotensi untuk dikembangkan. Salah satu usaha yang layak untuk dikembangkan adalah industri peternakan. Peternakan di Indonesia masih bersifat peternakan rakyat dan sebagai usaha sampingan, tetapi mempunyai potensi untuk berkembang menjadi usaha yang menguntungkan. Salah satu alasannya karena sebagian konsumsi makanan manusia diperoleh dari bahan pangan hewani.

Perkembangan peternakan yang ada saat ini tidak hanya pada ternak konvensional saja tetapi masyarakat sudah mulai mengembangkan ternak satwa harapan. Hal ini dikarenakan modal yang dibutuhkan kecil, mudah dikembangkan dan dibudidayakan serta dapat diusahakan di lahan sempit. Salah satu satwa harapan tersebut adalah jangkrik. Jangkrik dibudidayakan sebagai pakan burung dan beberapa jenis ikan. Selain itu, jangkrik juga dapat digunakan sebagai pakan primata dan pakan reptil. Bila dilihat dari aspek nutrisi, jangkrik berpotensi sebagai sumber protein hewani alternatif dengan kandungan protein sekitar 60%.

Permintaan akan jangkrik kian lama semakin meningkat dan ketersediaan di alam tidak dapat mencukupinya. Peningkatan permintaan tersebut menyebabkan penangkapan terus menerus di alam dan berdampak pada menurunnya populasi jangkrik alam. Oleh karena itu diperlukan adanya budidaya jangkrik secara intensif, sehingga permintaan jangkrik dapat terpenuhi dan kelestarian populasi jangkrik dapat terjaga.

Budidaya jangkrik di Indonesia merupakan hal yang belum membudaya dan memasyarakat. Bila dilihat dari permintaan pasar yang selalu ada, budidaya jangkrik berpotensi secara ekonomi untuk dikembangkan dan usaha jangkrik dapat dijadikan sebagai sumber pendapatan alternatif. Keuntungan yang diperoleh dari beternak jangkrik sangat besar, waktu yang dibutuhkan untuk budidaya ini juga relatif singkat.

Potensi yang menjanjikan secara ekonomi dan permintaan pasar yang selalu ada, membuat usaha ternak jangkrik dapat dikembangkan untuk memenuhi permintaan yang terus meningkat. Usaha ternak jangkrik di Indonesia masih tergolong baru dan belum memasyarakat. 

Sebelum melakukan usaha ternak ini perlu dilakukan analisis faktor lingkungan usaha, meliputi faktor makro dan faktor mikro. Faktor makro meliputi keadaan alam, sumberdaya alam, sumberdaya manusia, sosial budaya, ekonomi finansial, teknologi dan kebijaksanaan pemerintah, sedangkan faktor mikro meliputi aspek produksi, reproduksi dan pengelolaan untuk mengembangkan usaha ternak.

Jangkrik merupakan serangga berukuran kecil sampai besar yang berkerabat dekat dengan belalang karena keduanya tergolong bangsa Orthoptera. Klasifikasikan jangkrik dalam filum Arthropoda, kelas Insecta, ordo Orthoptera, famili Gryllidae, genus Gryllus. Di Indonesia tercatat lebih kurang ada 123 jenis jangkrik dan yang dibudidayakan untuk pakan burung dan ikan adalah jenis Gryllus testaceus Walk dan Gryllus mitratus Burn. Karakteristik kedua jenis ini hampir sama, perbedaannya ialah jenis G. mitratus lebih kecil dibandingkan G. testaceus dan pada pinggir sayap punggung G. mitratus terdapat garis putih sedangkan G. testaceus polos. Di samping itu ovipositor (alat kelamin betina) G. mitratus lebih pendek dan lebih tenang dibandingkan dengan G. testaceus yang lebih agresif.

Tiga spesies jangkrik yang potensial untuk dikembangkan di Indonesia diantaranya jangkrik Cliring (G. mitratus), Cendawang (G. testaceus) dan Kalung (G. bimaculatus). Ciri dari jangkrik Kalung yaitu terdapat kalung kuning yang melingkari lehernya dan ukurannya sekelingking orang dewasa.

Jangkrik Jerman (Gryllus sp.) memiliki tahapan perkembangan lebih cepat dengan siklus hidup lebih pendek dibandingkan jangkrik lokal, namun kemampuan bereproduksi tidak sebaik jangkrik lokal. Jangkrik lokal mempunyai kemampuan betelur pertama lebih cepat, waktu tetas lebih singkat dan jumlah anak yang dihasilkan lebih besar dibandingkan jangkrik Jerman (Gryllus sp.). Produktivitas dan lama produksi jangkrik G. mitratus lebih baik dibanding G. testaceus.

Lama siklus hidup jangkrik bervariasi menurut jenisnya. Pada semua jenis, umur jantan lebih pendek dibanding betinanya. Umur dewasa jantan jenis G. mitratus hanya 78 hari, sedang betina dewasanya dapat mencapai 105 hari. Jangkrik umumnya mengalami metamorfosis tidak sempurna yang dimulai dari telur sampai menjadi imago.

Ada dua alternatif yang bisa dipilih dalam memulai beternak jangkrik. Pertama, dengan cara menetaskan telur. Kedua, dengan mengembangbiakkan yaitu mengawinkan induk jantan dan induk betina untuk mendapatkan telur.

Agar diperoleh telur jangkrik berkualitas baik dan tidak menghasilkan keturunan yang abnormal, induk yang dipilih harus memenuhi syarat. Induk yang baik berasal dari tangkapan di alam karena biasanya memiliki ketahanan tubuh yang lebih baik. Kalau sulit mendapatkan induk betina dari alam, induk dari hasil peternakan pun dapat digunakan. Namun, induk jantannya diusahakan dari tangkapan alam. Komposisi perbandingan induk jantan dan betina 1: 2-5 ekor, dan dapat menghasilkan sekitar 250.000 telur dari induk betina.

Wadah pemeliharaan jangkrik harus dapat membuat jangkrik hidup dengan tenang, dimana wadah tersebut harus lembab dan luas agar jangkrik dapat bergerak leluasa. Ruangan yang lembab juga dimaksudkan agar telur jangkrik tidak mengalami kerusakan. Kotak sebaiknya diolesi dengan lumpur tanah sawah, tanah merah atau tanah liat untuk menciptakan suasana habitat seperti di alam bebas, dan perlu diberi sirkulasi udara dengan cara memberi lubang di salah satu dinding atau tutupnya.

Perkembangan telur selama proses penetasan dapat dibagi dalam tiga tahap, yaitu tahap telur muda, telur remaja dan telur tua. Telur muda berusia 1-5 hari yang ditunjukkan dari warnanya yang putih kekuningan. Telur remaja berusia 6-10 hari dengan warna yang sudah berubah menjadi kuning. Telur yang berumur lebih dari 11 hari memiliki warna yang sudah menjadi kuning kehitaman, dan siap menetas.

Pakan jangkrik yang baik ialah hijauan, kacang-kacangan, buah-buahan dan umbi-umbian yang masih muda serta sayur-sayuran. Pakan jangkrik yang berupa sayuran yang masih segar disamping untuk memenuhi kebutuhan juga untuk memenuhi kebutuhan minum bagi jangkrik oleh karena itu untuk kebutuhan minum tidak perlu diberikan secara khusus dalam wadah atau mangkuk. Untuk memacu pertumbuhannya, jangkrik perlu diberi makanan sumber protein,  misalnya pellet, konsentrat atau bokasi seperti pada pemeliharaan anak jangkrik.

Waktu pemanenan jangkrik disesuaikan dengan tujuan pemasaran, jangkrik untuk pakan burung umumnya dipanen pada umur 40-45 hari atau pada stadium nimfa III, sedangkan untuk pakan ikan arwana pada umur 55-70 hari. Jangkrik yang akan digunakan sebagai induk dipanen pada umur 70 hari.

Jangkrik mempunyai potensi untuk menjadi salah satu pakan ikan, binatang kesayangan bahkan sebagai bahan pangan manusia. Potensi tersebut diantaranya karena: 

(1) kadar protein jangkrik yang tinggi; 

(2) daya reproduksinya tinggi dan mudah dalam pemberian pakannya.

Ada tiga produk yang dapat laku di pasar, yaitu telur, clondo, dan induk. Telur dan induk memiliki sasaran pasar peternak jangkrik, sedangkan clondo dijual kepada penggemar burung berkicau atau ikan arwana. Oleh karena itu, semua produk dari jangkrik masih dapat dikatakan potensial. Burung berkicau yang diberi makanan jangkrik akan memiliki kicauan yang bagus dan prima sehingga nilai jualnya naik atau dapat diikutsertakan dalam lomba burung. Jangkrik sebagai makanan ikan arwana, dapat menjadikan warna tubuh ikan lebih cemerlang. Jangkrik sebagai pakan udang dan lele diberikan dalam bentuk tepung, dan pertumbuhan udang dan lele yang mengkonsumsi tepung jangkrik berkembang pesat.

Jangkrik termasuk salah satu jenis serangga yang biasanya dikonsumsi oleh sebagian masyarakat di beberapa negara misalnya India, Filipina, Thailand dan Indonesia. Serangga ini dimakan bukan hanya dalam keadaan darurat melainkan sebagai bahan makanan pelengkap sumber protein alternatif sepanjang tahun. Jangkrik sangat berpotensi untuk dibudidayakan sebagai bahan pangan dan pakan karena memiliki palatabilitas dan kandungan protein yang tinggi. 

Jangkrik dapat diolah menjadi tepung dan berpotensi sebagai sumber protein hewani alternatif karena mengandung nutrisi, terutama asam amino yang cukup lengkap sehingga mampu menggantikan sebagian tepung kedelai dan tepung ikan dalam campuran pakan ayam broiler. Kadar protein tepung jangkrik berdasarkan bahan basah berkisar antara 56,02-61,58%. Bila dibandingkan dengan kadar protein bahan pangan yang sering dikonsumsi oleh manusia memperlihatkan bahwa tepung hewan ini berpotensi untuk digunakan sebagai alternatif bahan pangan sumber protein. Tepung jangkrik kalung (G. bimaculatus) mengandung protein dan lemak yang cukup tinggi yaitu masing-masing berkisar antara 56,02-74,5% dan 15,47-32,84%. Asam linoleat merupakan asam lemak yang paling dominan pada tepung jangkrik, sangat penting bagi manusia dan hewan, terutama untuk mencegah dermatitis (pengeringan dan pengelupasan kulit) pada anak-anak.

Menjual telur jangkrik menguntungkan karena waktunya relatif singkat dengan harga eceran berkisar antara Rp. 10.000-12.000 per sendok kecil. Keuntungan akan lebih besar dengan memproduksi clondo, dimana 90% dari 450.000 ekor bayi jangkrik yang menjadi clondo dengan harga Rp. 70 per ekor, akan menghasilkan pendapatan sebesar Rp. 28 juta.

Ada beberapa faktor-faktor yang perlu diperhatikan dalam pengembangan peternakan, antara lain: 

(1) persediaan bahan baku; 

(2) teknologi tepat guna; 

(3) keahlian yang dibutuhkan atau tenaga terampil; 

(4) potensi pengembangan peternakan; 

(5) prioritas pembangunan peternakan di lokasi yang bersangkutan.

Pengembangan peternakan jangkrik sudah dimulai sejak tahun 1990-an. Namun, waktu itu jangkrik hanya dijadikan komoditas pakan hewan dan dipasarkan di pasar tradisional. Pada tahun 2000 booming jangkrik sempat terjadi. Bisnis jangkrik di Medan dan Pekanbaru masih dilakukan banyak orang dan berjalan sukses. Bahkan pengusaha jangkrik di daerah itu telah terhimpun dalam wadah HIPAJARI (Himpunan Pengusaha Jangkrik Indonesia).

Jenis kandungan bahan dalam tubuh jangkrik membuat jangkrik banyak diburu untuk kepentingan industri pakan ternak, jamu maupun kosmetik. Pengusaha pakan ternak tertarik untuk mengubah pola produksi mereka dengan bahan jangkrik karena mahalnya bahan impor.

Comments

Popular posts from this blog

Essay Pengabdian Masyarakat

Laporan wawancara budidaya ikan konsumsi ( ikan lele )

Si Pahit Kaya Khasiat, Daun Pepaya

KISTA OVARI Sapi

Usaha Pembiakan Sapi Komersial di Indonesia

Kasus Cystolithiasis Akibat Infeksi pada Anjing

Translate

Pageviews last month

420

terima kasih

jangan lupa datang kembali, komen, dan request