Manfaat Jambu Kristal
Penyakit degeneratif merupakan penyakit yang menimbulkan kerusakan pada suatu jaringan dan organ tubuh manusia. Terjadinya penyakit degeneratif disebabkan oleh proses oksidasi yang berlebihan terhadap asam nukleat, lemak, protein, dan juga DNA sel. Pada seluruh negara berkembang, penyakit degeneratif telah menyebabkan kematian sebanyak 60 juta orang. Penyakit degeneratif di Indonesia memiliki angka pravelansi ssebanyak 12,1 % penyakit stroke, 9,4 % penyakit hipertensi, dan 1,5 % penyakit jantung koroner (http://krjogja.com/read/238383/kalbe-edukasi-penatalaksanaan-penyakitdegeneratif). Radikal bebas merupakan penyebab dari penyakit-penyakit degeneratif tersebut (Linn 2013). Radikal bebas adalah suatu molekul, atom, atau grup atom yang memiliki satu atau lebih elektron yang tidak berdampingan pada orbital terluarnya (Muchtadi 2013).
Tubuh menghasilkan radikal bebas secara terus menerus, dapat melalui metabolisme sel normal, kekurangan gizi, peradangan, atau karena respon tubuh terhadap pengaruh lain dari luar tubuh, dari polusi lingkungan, sinar ultraviolet (UV), dan dapat ditimbulkan oleh asap rokok (Tapan 2005). Beberapa alasan tersebut menyatakan bahwa tubuh membutuhkan antioksidan yang dapat membantu menjaga tubuh dari serangan radikal bebas dan mengurangi dampak negatifnya (Winarsih 2007).
Antioksidan berhubungan dengan penghambatan radikal bebas yang bisa masuk ke tubuh manusia dengan cara memperlambat oksidasi (Marmi 2011). Antioksidan bisa berbentuk antioksidan enzimatis contohnya superoksida dimutase (SOD), katalase, dan glutation peroksidase. Selain antioksidan enzimatis, terdapat antioksidan non-enzimatis contohnya vitamin A, C, E, β-karoten, isoflavin, antosianin, flavonoid, katekin, dan isokatekin (Winarsih 2007).
Antioksidan yang berasal dari luar tubuh atau non-enzimatis bisa didapatkan dalam bentuk alami atau sintesis. Ada beberapa macam antioksidan sintesis contohnya buthylated hydroxytoluene (BHT), buthylated hidroksianisol (BHA), dan ters-butylhydroquinone (TBHQ). Antioksidan sintesis tersebut secara efektif dapat memperlambat terjadinya oksidasi. Sifat karsinogenik yang dimiliki antioksidan sintesis dalam jangka panjang bisa berubah menjadi racun pada tubuh, sehingga antioksidan alami sangat dibutuhkan karena lebih aman (Jin et al 2012).
Senyawa antioksidan alami yang tinggi dimiliki oleh buah-buahan. Antioksidan alami lebih aman untuk dikonsumsi, selain itu juga bisa membantu meningkatkan kesehatan tubuh, dibandingkan dengan antioksidan sintesis. Senyawa antioksidan yang dihasilkan oleh tubuh seperti vitamin C, karote, vitamin E, flavonoid, dan golongan fenol terutama polifenol memiliki potensi yang dapat mengurangi resiko penyakit degeneratif (Febrianti et al 2016).
Indonesia merupakan salsalah satu negara tropis yang mempunyai kekayaan sumber daya alam yang sangat banyak. Buah-buahan tropis merupakan salah satu sumber daya alam yang dimiliki oleh Indonesia. Buah tropis itu biasanya ditanam sendiri atau ditanam di perkenunan khusus (suatu perusahaan agrobisnis). Jambu kristal adalah jenis buah-buahan tropis lokal yang sering dikonsumsi oleh masyarakat karena mudah didapatkan, baik dijual dipasaran atau ditanam langsung.
Buah tropis yang berada di Indonesia salah satunya adalah buah jambu kristal. Jambu kristal adalah spesies Psidium guajava L. yang merupakan varietas baru mulai tahun 1998, merupakan hasil bantuan transfer teknologi Taiwan untuk negara Indonesia untuk memproduksi macam-macam hasil rekayasa genetika. Jambu kristal mempunyai banyak ciri-ciri, yakni mempunyai rasa buah yang manis, kadar kemanisannya 11 12 briks, mempunyai fisiologi buah yang bulat agak gepeng, bahkan biasanya mempunyai bentuk yang tidak simetris, buah jambu kristal mempunyai biji kurang dari 3% dari permukaan pada buah jambu kristal terdapat tonjolan yang tidak merata, berat buah jambu kristal kurang lebih 100 500 gr/buah, buah jambu kristal memiliki kulit buah berwarna hijau muda, namun daging buahnya berwarna putih, buah jambu kristal memiliki tekstur yang sangat renyah seperti buah peer. Berdasarkan ciri-ciri tersebut, membuat buah jambu biji tersebut istimewa dibandingkan dengan varietas jambu biji lainnya (Nita T R I Damayanti, Loc.Cit). Selain itu, tekstur daging buah pada jambu kristal renyah saat hampir matang dan empuk saat puncak kematangan.
Buah jambu kristal memiliki banyak kandungan vitamin C, vitamin A, serat pangan, polifenol, asam lemak tak jenuh, karotenoid, omega 3 dan omega 6. Buah jambu kristal memiliki kandungan vitamin C tertinggi dibandingkan buah-buahan lainnya seperti buah pepaya, strowberi, melon, kiwi, dan buah jeruk. Buah jambu kristal memiliki kandungan vitamin C sebanyak 183 mg per 100 gram buah (Novita et al 2016). Vitamin C adalah salah satu zat gizi yang mempunyai peran penting sebagai sumber antioksidan efektif atau bisa mengurangi radikal bebas yang bisa merusak sel atau jaringan tubuh, dan dapat menjaga lensa dari kerusakan oksidatif yang disebabkan oleh radiasi. Senyawa vitamin C memiliki bentuk seperti kristal putih. Vitamin C merupakan sebuah asam organik dan tergolong asam, tetapi tidak menghasilkan bau dalam larutan. Proses oksidasi oleh oksigen dari udara atau suhu dapat menyebabkan vitamin C mudah rusak, namun akan lebih stabil jika vitamin C terdapat dalam bentuk kristal (Padang 2017). ini merupakan antioksidan yang baik untuk tubuh sebagai penangkal radikal bebas (Aufa et al 2020).
Deddy Muchtadi, Antioksidan dan Kiat Sehat di Usia
Produktif, (Bandung : Alfabeta, 2013).
Dwi Dian Novita et al., “Pengaruh Konsentrasi Karagenan dan
Gliserol terhadap Perubahan Fisik dan Kandungan Kimia Buah Jambu Biji Varietas
„KRISTAL‟ Selama Penyimpanan”, Vol. 5 (2016).
Erik Tapan, „Kanker, Antioksidan, dan Terapi
Komplementer‟, (Jakarta: PT Gramedia, 2005).
Hery Winarsi, Antioksidan Alami dan Radikal Bebas,
(Yogyakarta: Kanisius, 2007).
Lei Jin et al., “Phenolic compounds and antioxidant activity
of bulb extracts of six Lilium species native to China”, Vol. 17 (2012).
Linn Hasil dan Pengadukan Dan, “Daya Antioksidan Ekstrak
Etanol Kulit Manggis (Gracinia mangostana Linn) Hasil Pengadukan Dan Refluk”,
Vol. 2 (2013).
Marmi, Gizi dalam Kesehatan Reproduksi, (Yogyakarta: Pustaka
Pelajar, 2013).
Muhamad Raihan Aufa, Wendry Setiyadi Putranto, and Roostita
L Balia, „Pengaruh Penambahan Konsentrasi Jus Jambu Biji Merah (Psidium Guajava
L.) Terhadap Kadar Asam Laktat, Vitamin C, Dan Akseptabilitas Set Yogurt‟,
Vol1(1). (2020).
Novi Febrianti et al., “Perbandingan Aktivitas Antioksidan
Buah Pepaya (Carica papaya L.) dan Buah Jambu Biji Merah (Psidium guajava L.).
2016.
Septipianus Arung Padang, „Penetapan Kadar Vitamin Pada Buah Jambu Merah (Psidium Guajava L.) Dengan Metode Titrasi NA-2,6 Dichlorophenol Indophenol (DCIP)‟, Universitas Nusantara PGRI Kediri, Vol.1 (2). (2017).

Comments
Post a Comment